Salah satu cara utama agar sebuah konten dapat diterima dengan baik oleh masyarakat adalah dengan mengetahui dunia dari para target audiens tersebut. Misalnya, generasi yang lebih tua dari kita cenderung akan lebih senang dengan segala informasi yang disajikan di layar televisi. Sementara, kalau target audiens utama kita adalah generasi Z maka cara menjangkau mereka adalah dengan memanfaatkan beragam media yang tersaji di media digital.

Tidak dapat dipungkiri lagi kalau generasi Z sudah menjadi pengguna internet sejak usia masih sangat muda. Mereka biasa berkomunikasi dan mencari beragam informasi di dalamnya. Sehingga, konten yang tersaji di dunia digital menjadi satu hal penting untuk bisa meraih kepercayaan mereka.

Saat ini, banyak strategi pemasaran digital yang bisa dilakukan oleh brand untuk menjangkau para generasi Z ini. Karena banyaknya format, tipe dan jenis konten yang memang dapat menarik perhatian mereka. Namun salah satu yang ampuh untuk diterapkan oleh para brand adalah influencer marketing.

Alasan mengapa influencer marketing ini dapat menjangkau generasi Z karena memang mereka merasa dekat dengan para influencer yang mereka ikuti. Setiap hari, anak-anak muda ini melihat keseharian influencer di dalam feed media sosial mereka. Sehingga mereka kerap menganggap bahwa influencer adalah bagian dari peer group mereka yang rekomendasinya dapat mereka percayai.

Studi dari tubefilter menyatakan bahwa, lebih dari 44% generasi Z telah mencoba rekomendasi yang diutarakan oleh para kreator digital. Ditambah, lebih dari 30% di antara mereka yang telah membeli produk yang direkomendasikan oleh influencer. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa, influencer memiliki peranan penting agar sebuah brand bisa lebih dekat dan mendapatkan perhatian dari para generasi Z.

Dan di bawah ini merupakan beberapa cara agar influencer marketing dapat efektif menjangkau generasi Z.

Brand perlu familiar dengan berbagai platform digital yang baru

Media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter dan lain-lain tentu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para generasi Z. Dan salah satu cara terbaik untuk bisa mendekatkan diri dengan mereka adalah melalui beragam platform tersebut.

Tetapi, di lain pihak, ketika ada sesuatu yang baru di dunia digital, maka mereka juga tidak akan segan untuk mencoba berbagai hal baru tersebut. Dan salah satu contoh platform digital baru yang kini digemari oleh para generasi Z adalah TikTok. Buktinya, di tahun 2017, aplikasi ini sudah mempunyai total 200 juta pengguna. Tidak hanya itu, TokTok juga merupakan aplikasi yang paling banyak di-download pada kuartal pertama tahun 2018 pada kategori non-game.

Aplikasi-aplikasi baru seperti TikTok ini memang dapat menjadi satu kesempatan baru bagi para maketers untuk mencuri atensi. Namun, yang menjadi tantangannya yaitu, sulitnya mencari dan mengadaptasi format konten yang baru. Dan untuk itu, kita bisa bekerja sama dengan para influencer agar konten yang disajikan bisa terasa lebih native, lebih mudah diterima oleh target audiens dan juga meningkatkan keperacayaan mereka terhadap brand.

Buat marketing campaign selayaknya sebuah game

Salah satu tipe konten yang seringkali menjadi viral adalah “challenges”. Dan mengapa hal ini dapat terjadi, karena memang banyak anak muda yang merasa bahwa challenge di media sosial ini seru untuk diikuti serta memperlihatkan eksistensi mereka di dunia digital dengan tetap up-to-date pada tren yang sedang berkembang.

Kita bisa melihat contohnya dari Keke Challenge. Banyak anak-anak muda yang mengikuti challenge ini dan mungkin ketika sedang naik-naiknya, hampir setiap hari feed instagram itu penuh dengan orang-orang yang mengikuti Keke Challange ini.

Membuat challenge memang menjadi satu cara untuk bisa membuat brand menjadi dikenal luas. Dan untuk bisa menyebarkan konten seperti ini, kita bisa bekerja sama dengan influencer untuk memulai campaign yang ingin dijalankan. Dengan begitu, para followers mereka akan tertarik untuk mengikutinya, sehingga konten yang kita sajikan dapat berkembang seperti efek bola salju dan semakin banyak target audiens yang menjadi kenal dan mau menggunakan produk atau jasa yang telah dipromosikan tersebut.

Menganggap para influencer itu creative director

Banyak marketers yang ingin memaksa para influencer untuk bekerja seperti yang brand inginkan. Memang tidak salah, mengingat para brand ini sudah membayar dan juga memiliki agenda demi perkembangan brand atau produk mereka.

Tetapi di sisi lain, ketika terlalu mengontrol para influencer, hal ini justru bisa menjadi kerugian tersendiri. Karena dengan konten yang tidak terasa natural, akan membuat para audiens justru menjadi kehilangan kepercayaan pada brand terkait.

Pada dasarnya, para influencer-lah yang paling mengenal para followers-nya. Dan suara unik mereka pula yang menyebabkan para audiens menjadi percaya dengan mereka. Karena itu, kita sebagai brand perlu untuk menyertakan para influencer di dalam setiap tahapan proses kreatif, sebab mereka akan mengetahui konten apa yang tepat agar bisa meningkatkan engagement para followers-nya. Dengan begitu, konten yang disajikan pun dapat menjadi lebih efektif, dan para influencer akan dengan senang hati kembali bekerja sama dengan brand tersebut.

Membuat konten yang unik dan bermakna

Salah satu preferensi konten yang mendapat perhatian dari para generasi Z adalah konten yang singkat, tidak terlalu banyak diedit, menghibur serta dapat memberikan nilai baru atau memperkuat nilai tersebut di dalam hidup mereka.

Dengan membuat sebuah konten yang hanya berisi hiburan mungkin saja bisa menangkap atensi mereka, tetapi ketika kita dapat memberikan pesan dan nilai yang sesuai dengan identitas dan aspirasi mereka, maka konten yang kita sajikan tersebut nantinya dapat menjadi lebih efektif untuk mencapai objektif pemasaran.

Kalau memang target audiens utama kita adalah generasi Z, maka tidak ada salahnya kalau mencoba mencuri minat mereka terhadap brand dengan menggunakan stratergi influencer marketing, asalkan konten yang disajikan tersebut tetaplah autentik.

 

 

Source

Post relativi

0 commento(i)